Assalamualaikum..
pertama aku ingin mengungkapkan betapa kini aku sangat ingin menulis. Mungkin suatu saat aku akan menertawakannya, namun aku berharap ini bisa terus berkelanjutan. pada pos sebelumnya aku menyatakan rasa terima kasih kepada sebuah tulisan dari bang surya yang sudah membuat aku ingin menginspirasi sebagaimana ia menginspirasi aku sekarang. walaupun masih sangat pemula, berharap bahasa ini bisa dimengerti oleh siapapun yang baik secara sengaja ataupun tak sengaja membacanya...
Cerita ini aku mulai dari pertemuan tadi malam disebuah kedai mama (kedai keturunan india muslim) namanya Impiana, didekat hostel Bunga Raya. Disana kami sudah disambut oleh 3 orang mahasiswi dari ITB yang sedang menjalani pembelajaran yang sama bersama saya dan 2 orang teman saya.
Lalu kita makan dan membahas masalah salah seorang mahasiswa yang pacarnya berada di Indonesia. Mereka sedang bertengkar rupanya. Lalu, aku menyarankan beberapa trik yang aku pelajari dari keluargaku, yaitu ayahku. Kalau mamak sedang marah atau menyatakan keberatannya terhadap tindakan ayah, maka ayah hanya mendengarkan saja tanpa ada perlawanan sedikitpun. benar-benar diam seribu bahasa, pernah aku bertanya kepada beliau mengapa demikian?. Ayah menjawab yang intinya kalau keras dilawan dengan keras, salah satu akan hancur atau kedua-duanya akan hancur. Makanya ayah sabar saja hingga mamak selesai menyampaikan perasaannya dan hasilnya "Luar Biasa". Disamping itu aku juga memberinya sedikit tips yaitu dengan sholat isthikarah, lalu berdoa "ya Allah kalau dia memang jodohku dan mendekatkan aku padamu maka mudahkanlah, lembutkanlah hatinya dan pertemukan kami dalam kasih sayang Mu, namun bila ada yang lebih baik untukku, maka tunjukkanlah jalannya. Sesungguhnya Engkau maha mengetahui lagi Maha Perkasa dan Bijaksana. Semoga bisa bermanfaat buat mereka.
Kembali ke judul, aku akan sedikit menceritakan bagaimana kepribadian temanku ini menurut sepengetahuanku. Ia adalah orang yang sangat open minded, bayangkan saja ia sudah memiliki keluarga angkat di beberapa negara di dunia, teman-temannya sangat beragam dan dari berbagai latar belakang. Saya tidak meragukan sama sekali dengan pengalamannya. Dia juga orang yang sangat inisiatif, berani, cepat tanggap, dan mandiri. Luar biasa, sebuah sikap yang selama ini saya idamkan.. hehehe.. penakut soalnya.. ^.^
Dia adalah orang yang baik, namun karena selalu bergaul dengan dunia global ia sedikit lupa dengan budaya timurnya indonesia dan Malaysia. Untung, waktu kecil mamak selalu mengajarkan basa-basi. Nah, kalau menurut dia ni, basa-basi itu adalah sebuah kebohongan. Lha, kenapa bisa kebohongan, karena menurut dia lagi ni, kenapa kamu mengutarakan sesuatu yang sebenarnya kamu ga ingin lakukan. contohnya, kita lagi makan ni, trus ada orang didekat kita lagi duduk diam aja, kalau dengan adat basa-basi kita menawarkan makanan ke orang tersebut "makan??", biasanya sih si orang tersebut bilang "udah makan tadi" atau "makasih". tapi kalau misalnya si orang tersebut bilang "iya, dimana yha ngambilnya?". Nah lho, bingung ga bisa ngasih... eitss.. itu pendapatnya teman sekamar saya yang ada di Malaysia...
Nah kalau bantahan dari saya, sebenarnya bohong atau ga itu tergantung gimana kita, apa susahnya sih bagi makanan atau nanya ke orang. Kecuali kalau kita emang dari awal niatnya cuma boong. kalau beneran sih bukan boong namanya. oke...
Tapi begitulah orang, kita ga bisa memaksakan pendapat sendiri, karena kedudukan kita setara. Tidaka ada atasan dan bawahan walau dalam sebuah struktur sekalipun. Orang bertindak atas kemauannya sendiri. Perintah itu hanya akan di proses oleh diri sendiri mau dilakukan atau tidak. jadi jika ingin melakukan sesuatu minta pendapat orang lain dulu, biasanya da sudut pandang lain yang kita miss dalam menganalisisnya.
Semoga bisa bermanfaat...
dalam pos-pos berikutnya akan disertakan tulisan saya ketika pertama kali sampai di Malaysia hingga hari kemarin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar