Selasa, 29 Januari 2013

Perjalanan Kemarin

Awalnya berangkat pagi dari kontrakan.. langsung sarapan d warungnya bu popong.. dengan 5000 rupiah dapet telur, nasi, gorengan, sayur dan sebagainya.. ketika makan disebelah duduk seorang lelaki tua yang makan hanya dengan ikan saja.. padahal kalau ditambah dengan yang lain tidak menambah sedikitpun harganya.. mungkin ia takut kalau harganya makin mahal atau dia malu untuk ngambil lagi karena dikasih gratis sama si ibu..
Lalu.. bagaimana kita seharusnya, apakah harus demikian atau seperti apa.. hm.. rasanya begitulah kalau tidak pd, jadi sebenarnya sama saja, namun karena tidak dikomunikasikan maka tidak mendapat yang sesuai..
dengan sedikit usaha lagi, sepertinya akan mendapat kualitas yang sama dengan orang lain, namun apakah cukup pd dengan itu atau tidak..

kemarin ke sumedang, ke bapeda dan dinas pu.. pelajarannya adalah be honest, kalau ga bakal menyusahkan diri sendiri..

susah kalau sudah ga jujur..

aku tersentak, semoga allah asih memberikan berkahnya walau sudah tidak jujur dan aku tidak bisa mencegahnya karena khawatir akan dijahati.. dan aku lupa tanpa izin allah baik manfaat atau mudharat ga bisa kena ke diri ini..

Kamis, 24 Januari 2013

Makan kerak di dasar panci

Saatu kesulitan saat ini melanda.. tak ada lagi uang untuk sekedar membeli makanan untuk sarapan..
semuanya kupasrahkan pada Allah yang maha mengurusi setiap Hambanya dan mencukupi segala kekurangan. Hari ini aku sudah tidak bisa lagi mengambil uang di ATM, sudah kosong.. sekarang berat rasanya untuk mengatakannya ke orang tua, aku tak mau menyusahkan lagi mereka..
cukuplah Allah saja tempatku bergantung..
Kemarin malam saat perut ini merasa lapar yang amat sangat, beruntung ada sahabat yang menawarkan sisa nasinya untuk aku makan. Lalu didapur ada bekas panci yang digunakan untuk memasak ikan sarden dan masih tersisa sedikit kuah dan potongan kecil ikan disana. Maka aku memasukkan nasi yang sedikit itu ke panci lalu mengaduknya untuk menempelkan kerak saden itu ke nasi..
setelah itu, aku menggoreng sebentar untuk mendapatkan cita rasa yang baik. Sebagai pelengkap aku membuat air gula tanpa teh.. sungguh nikmat, meski hanya sedikit..
sekarang aku gunakan kesempatan ini untuk saum daud.. sebagai upaya penghematan sekaligus menahan diri dari gejolak masa muda.. semoga ini semua bisa menjadi pelajaran berharga buatku untuk selalu bekerja keras dan membantu orang lain yang kekurangan.

Dengar dan Diskusi

Selama ini aku mengira bahwa yang aku lakukan adalah sesuatu yang benar.. namun ternyata ketika aku berada pada kondisi mereka, aku tersadar bahwa apa yang mereka katakan adalah sebuah kebenaran. Keangkuhan dan keegoisan masing-masing telah menutup pintu diskuusi antara keduanya sehingga tak pernah ditemukan semua titik temu yang pas untuk dijalankan bersama.. hingga berjalan kearah yang berlawanan adalah pilihan.

Semoga untuk selanjutnya apa yang sudah didapatkan bisa menjadi sebuah pelajaran untuk lebih mendengar dan berdiskusi, melihat lebih jauh.. lebih luas..

Selasa, 08 Januari 2013

Catatan teruntuk Diriku

Kemanakah Perginya semangat itu?
Sedih rasanya melihat diriku kehilangan semangat dalam membina adik. Datang terlambat di setiap acara adik, menghindar kalau ada kesempatan membina, tidak sepenuh hati saat didepan adik, merasa kesal kalau cuma aku sendiri yang datang, dan yang terparah tak pernah lagi berinteraksi dengan adik..
Masih pantaskah aku disebut Pembina…
Dimana letak semangat membela agama Allah…
Lalu apa arti kalimat ini bagiku:
“Jika hanya ada satu orang yang membela agama Allah.. maka itu adalah aku”

Belum cukupkah balasan dari Allah saja, tidak cukupkah janji surga Allah untukmu, wahai diriku..
Bayangkan olehmu, wahai diriku.. wajah adik-adik yang datang dengan semangat setiap hari, setiap minggu untuk menemuimu.. berharap kau memberikan sesuatu yang luar biasa darimu…
Tapi dirimu, oh diriku.. setengah hati.. menghindar.. Alangkah sedihnya mereka ketika dirimu tiada bersama mereka.. Engkaulah yang mereka harapkan menjadi teladan, menjadi kakak yang mengayomi..
Tapi dirimu, wahai diriku.. masih nyaman diatas tempat tidurmu yang empuk, menjadikan tugas kuliah sebagai alasanmu..
Tak maukah engkau mengorbankan jatah waktu tidurmu untuk tugas-tugasmu..
Tak maukah engkau mengorbankan waktu senggangmu untuk agama Allah..

Sadar.. sadarlah wahai diriku…

Pembina yang Baik

Aku Pembina yang baik..
Sebuah gelar yang aku buat bukan tanpa alasan. Sebuah sebutan untuk seorang yang memenuhi criteria khusus yang aku tetapkan sendiri untuk diriku. Sebenarnya ciri ini aku standarkan untuk diriku sendiri, bukan untuk orang lain. Jika ada perbedaan aku dengan diri yang lain, adalah suatu keadaan yang pasti.
Namun yang aku yakini, aku Pembina yang baik..
Setiap hari aku mengawali hari jauh sebelum adzan subuh berkumandang, di kesunyian gelapnya malam yang tersisa, aku solat tahajud 2 rakaat saja, lalu witir.. aku baru kuat segitu. Lalu tilawah menunggu imsak. Jika hari senin makan dulu buat sahur.
Ketika subuh berkumandang, segera aku menuju masjid.. saf pertama jadi incaran dan diawali dengan solat qabliyah subuh. Setelah subuh, zikir pagi menghiasi kesegaran tetesan embun pagi.
Memang di beberapa hari setelah subuh aku tak mampu menahan rasa kantuk untuk tidur kembali.. namun aku membiasakan diri setiap hari tertentu untuk berolahraga ringan. Maka semangat dan keceriaan terpancar dalam setiap aktivitasku, saat kuliah aku fokus dan selalu berusaha menjadi yang terdepan dan terbaik. Sosialisasi dengan siapapun dan dimanapun dan berusaha melakukan amal soleh di setiap detik agar tak merugi.
Tak lupa untuk solat diawal waktu jika tak sedang menjalankan kewajiban menuntut ilmu, di sore hari saat luang, kusempatkan mengajar adik-adik di Salman. Saat malam menjelang, mengulangi pelajaran tadi siang adalah keharusan atau sekedar mengerjakan tugas.
Saat akhir pekan, adalah waktu berbagi dengan adik-adik dan pembina lain di Karisma, meski tarikan untuk bersantai sangat kuat, namun Janji surga Allah menarik lebih kuat. menjadikan berinteraksi dengan adik dan sahabat-sahabat lebih utama.
Ku rutinkan untuk senantiasa menghubungi ibuku, ayahku, saudaraku nan jauh disana. Aku tahu mereka senantiasa mendoakan yang terbaik untukku, aku pun demikian tak lupa doakan mereka disetiap munjatku pada Nya.
Demikianlah ceritaku, sudah pantaskah aku mengatakan diriku pembina yang baik?

Ingin menulis lagi

Sudah lama rasanya sejak terakhir kali aku menulis.. aku ingin sekai bisa rutin dalam menulis. Karena dengan menulis aku bisa melihatnya lagi.. apa yang telah ada dipikiran kecil ini dulu.. sebagai perbandingan apakah ada yang berkembang atau tidak sama sekali..
sungguh terasa sangat menyenangkan bisa seperti orang-orang yang mampu berkata-kata dengan sangat baik melalui lisan maupun dengan tulisan juga ada orang khusus yang hanya dengan tingkahnya bisa menginspirasi dunia..
aku..
apakah diri ini bisa demikian??
apakah aku bisa menjadi penggerak dunia yang didengar banyak orang atau hanya menjadi partikel debu kecil yang terbang kesana-kemari hingga menemui akhir di kegelapan malam..