Kemarin baru saja saya mendengar sesuatu yang sudah lama menjadi polemik dibahas oleh seorang youtuber dengan channel "Gurugembul". Bicara tentang adanya hipokrasi manusia indonesia terhadap harta. letak hipokrasinya menurut dia adalah sangat butuhnya seseorang tentang harta yang mana tidak dia miliki disatu sisi dan kemalasan dalam mencari harta disisi lain membuat mereka mencari tameng dan menjadikan agama sebagai tameng untuk kemalasan mereka mencari harta dan ketidakpunyaan mereka akan harta.
Tameng yang sering digunakan adalah bahwa harta tidak dibawa mati, sehingga untuk apa berusaha terlalu keras untuk mengejar harta, bahwa rezeki tidak akan tertukar dan sudah diatur oleh Allah swt, kebahagiaan tidak diperoleh dari harta.
Padahal, menurut guru gembul, harta itu dibawa mati, ada namanya sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan saat si pemilik harta telah meninggal dunia.
fakta tersebut membuat guru gembul menyimpulkan adanya hipokrasi terhadap harta yang dilakukan oleh sebagian kita.
lalu bagaimana sebenarnya dalam menyikapi harta tersebut. saya cenderung setuju dengan apa yang disampaikan oleh gurugembul, bahwa betul kebahagiaan tidak semata2 diperoleh dengan harta, namun dengan harta memberi kita lebih banyak pilihan dalam mewujudkan kebahagiaan. ada orang yang bahagianya adalah dengan berbagi, maka berbagi dengan harta adalah pilihannya. ada yang bahagia dengan memberikan fasilitas terbaik untuk keluarga dan kerabatnya, maka pilihan itu bisa dicapai dengan harta, dan lain sebagainya.
Memandang harta sebagai sumber kebahagiaan juga salah, karena kebahagiaan itu bukan pada banyaknya harta tapi pada pilihan untuk menggunakan harta untuk memberi kebahagiaan. dengan semakin banyaknya harta, maka akan semakin banyak pilihan yang membawa pada bahagia.
tapi ingat, itu juga artinya semakin banyak pilihan untuk menjadi sengsara.
sehingga harta hanya alat, tergantung bagaimana kita menggunakannya.
karena nanti diakhirat kita akan ditanya, darimana harta didapatkan dan kemana harta dikeluarkan..
kalau kata ustad firanda, selama tidak berlebihan dan bisa mempertanggung jawabkan di akhirat, maka tidak masalah kemana harta dihabiskan. jadi sebelum menggunakan harta, tanya diri dulu..
"Apakah dengan mengeluarkan harta kesini, saya bisa mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah nanti, jika ya, maka lanjutkan"
Semoga Allah mencukupkan kita dengan harta yang halal dan baik, lalu kita diberi hidayah oleh Allah untuk menghabiskannya pula dijalan yang baik.
Selanjutnya pembahasan dari mana harta itu diperoleh juga penting.
Beberapa kali saya melihat tayangan di film2, terkait adanya orang2 yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kekayaan, di dunia nyata juga. tindakan2 yang haram bahkan ada yang sampai syirik.
karena mindset yang salah terkait harta, kebanyakan dari kita menjadi kurang berusaha dan malu berdoa kepada Allah untuk meminta harta.
Setelah mendengar video kemarin, akhirnya saya berdoa pada Allah agar di berikan kecukupan dan bahkan kelimpahan harta untuk bisa mempunyai banyak pilihan dalam berbuat baik. ya, saat ini saya merasa belum cukup punya banyak pilihan untuk bahagia melalui harta, bukan berarti tidak bersyukur, ini adalah bentuk ikhtiar yang Allah bolehkan.
Kepada siapa lagi kita berdoa untuk meminta, termasuk harta selain kepada Allah??
Semoga catatan ini menjadi pengingat, bagi penulis untuk bisa selalu istiqamah mengutamakan Allah dibanding yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar