Rabu, 03 Juni 2026

Manfaat semu

Bagaimana bisa berpikir untuk melakukan sesuatu yang seolah memberi manfaat pada orang lain padahal sebenarnya akan memberi manfaat ke diri sendiri dalam jangka panjang.

Cerita ini dimulai dengan sebuah perusahaan dalam negeri yang menerima manfaat dr kewajiban offset dari perusahaan luar 

Seolah manfaat didapat oleh PDN dengan banyaknya training dan ojt yang diberikan dari PLN ke orang2 PDN, sehingga kemampuan orang2 PDN meningkat dan sesuai dengan requirement PLN. Setelah pintar dan jadi, orang2 PDN meminta kenaikan gaji karena kemampuan yg naik, tapi PDN tidak bisa memenuhi. 

Sedangkan PLN buka perusahaan cabang di negara tersebut, lalu dia menawarkan orang2 PDN untuk pindah dengan tawaran gaji yg lebih baik, maka manfaat kembali ke PLN

Skema yang menarik, menguntungkan PDN dalam jangka pendek dan PLN untung 2 kali

Kenanganku tentang bisnis

Saat masih kuliah dulu aku ingat saat akan memulai sebuah bisnis kecil untuk menjual es roti yang aku buat sendiri ke TK sekitar asrama, warnanya merah muda berbentuk kotak yg bahan utamanya itu tepung hunkwe, setelah diaduk lama dan matang, iya akan mengeras dicetakan, setelah itu dipotong dan dimasukkan ke plastik serta selanjutnya dimasukkan ke kulkas hingga beku.
Waktu itu belum ada kulkas, dan aku lupa detailnya seorang senior menawarkan dia akan membelikan kulkas tapi dengan persyaratan aku sewa tiap bulan sampai nilai seharga kulkas terbayar. Maka dibuatlah perjanjian dan berjalanlah usaha tersebut.

Aku ingat dengan termos merah muda, mengantarkan es roti itu ke kantin sekolah, Alhamdulillah diterima dengan baik, tiap satu atau dua Minggu aku cek dan tambah stock nya, di Minggu-minggu awal berjalan dengan baik, tapi semakin lama jumlah yg dibeli semakin sedikit, puncaknya saat aku terkena usus buntu dan dioperasi lalu masuk rumah sakit, semuanya berhenti.

Namun sewa kulkas tetap berjalan dan akhirnya aku bayar secara penuh saat menerima beasiswa tahunan dr Pemda 

Sejak itu, ada lagi satu usaha yg menjual barang bekas untuk sebuah panti, waktu itu dompet kalau ga salah, dipasarkan online, ada yg mau beli dia menawar dan deal, tapi ternyata rugi karena ongkos kirim lebih besar sehingga harus nombok 15.000 kalau ga salah.

Lalu ada juga jual tas harga modal 30.000 untuk dijual di Perawang, tas dikirim berharap ada yg beli disana, ternyata tasnya hanya menjadi hadiah gratis saja, karena aku ga jelas dalam melakukan penjualannya, sempat mau ditawarkan ke toko yg jual tas, tapi nyali udah ciut duluan

Hingga akhirnya karena tidak paham investasi, penjualan, dan negosiasi semuanya hanya menjadi trauma yg membuat aku pilih kerja saja